Sosialisasi

Rembuk Stunting Desa Padang Panjang Tahun 2026, Wujud Komitmen Bersama Menuju Generasi Sehat dan Berkualitas

Kamis 11 Juni 2026 · 3 dilihat · 1 bulan yang lalu
Rembuk Stunting Desa Padang Panjang Tahun 2026, Wujud Komitmen Bersama Menuju Generasi Sehat dan Berkualitas

Dalam rangka memperkuat upaya pencegahan dan penanganan stunting di tingkat desa, Pemerintah Desa Padang Panjang melaksanakan kegiatan Rembuk Stunting Tahun 2026 pada Selasa, 9 Juni 2026. Kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang menjadi wadah koordinasi dan musyawarah berbagai pihak dalam menyusun langkah strategis untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak serta menekan angka stunting di desa.

Rembuk stunting tersebut dihadiri oleh Camat Tanta, Rofik Aziddin, Kepala Puskesmas Tanta, Ony Erawati, Tenaga Pendamping Ahli, Abdul Hamid, Ahli Gizi Puskesmas Tanta, Efril Maulana, serta Petugas Kader Pembangunan Manusia (KPM), Desty Aulia. Selain itu, kegiatan juga diikuti oleh perangkat desa, kader Posyandu, kader Bina Keluarga Balita (BKB), kader Bina Keluarga Remaja (BKR), dan unsur masyarakat lainnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemaparan berbagai data terkait kondisi kesehatan masyarakat desa, meliputi jumlah anak yang mengalami stunting, gizi kurang, gizi lebih, serta ibu hamil dengan risiko tinggi. Data-data tersebut menjadi dasar dalam merumuskan program dan kegiatan yang akan dilaksanakan guna meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.

Kepala Desa dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan rembuk stunting ini. Menurutnya, forum tersebut sangat penting untuk menyatukan langkah dan komitmen seluruh pihak dalam menjaga kesehatan anak-anak desa agar tumbuh dan berkembang secara optimal. Apresiasi serupa juga disampaikan oleh Camat Tanta yang menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat dalam upaya percepatan penurunan stunting.

Salah satu hal yang menjadi sorotan dalam rembuk stunting tahun ini adalah adanya penurunan jumlah anak yang berstatus stunting. Berdasarkan data yang dipaparkan, jumlah anak stunting di desa mengalami penurunan dari 21 anak pada tahun sebelumnya menjadi 11 anak pada tahun 2026. Meskipun demikian, para peserta rembuk menilai bahwa data tersebut perlu dianalisis lebih mendalam untuk mengetahui penyebab penurunan tersebut.

Hasil pendataan menunjukkan bahwa dari 10 anak yang tidak lagi tercatat sebagai stunting, hanya 3 anak yang benar-benar mengalami perbaikan kondisi kesehatan sehingga keluar dari status stunting. Sementara itu, 7 anak lainnya tidak lagi masuk dalam data karena telah melewati batas usia pendataan Posyandu. Temuan ini menjadi perhatian bersama karena keberhasilan penanganan stunting tidak hanya diukur dari berkurangnya jumlah kasus dalam data, tetapi juga dari meningkatnya kondisi kesehatan anak secara nyata.

Oleh karena itu, peserta rembuk sepakat bahwa perlu dilakukan kajian lebih lanjut terhadap tiga anak yang berhasil keluar dari status stunting akibat perbaikan kondisi kesehatannya. Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan tersebut, baik dari aspek pola asuh, pemenuhan gizi, layanan kesehatan, maupun kondisi lingkungan keluarga, akan menjadi bahan evaluasi dan acuan dalam merumuskan strategi penanganan stunting yang lebih efektif di masa mendatang.

Melalui pelaksanaan rembuk stunting ini, seluruh elemen masyarakat diberikan kesempatan untuk menyampaikan usulan, masukan, dan gagasan dalam upaya percepatan penurunan stunting. Aparat desa, kader Posyandu, kader BKB, kader BKR, tenaga kesehatan, serta para orang tua yang memiliki anak stunting berdiskusi bersama untuk mencari solusi terbaik demi mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.

Dengan semangat kebersamaan dan komitmen yang kuat dari seluruh pihak, diharapkan berbagai program yang direncanakan dapat berjalan secara optimal sehingga target Zero Stunting di Desa Padang Panjang dapat tercapai pada masa yang akan datang.